Penikmat kopi di Indonesia biasanya suka memesan caffe latte di coffee shop dengan sebutan “latte” saja. Padahal di Italia, tempat awal mula caffe latte berasal, kata “latte” artinya adalah susu. Jadi kalau di coffee shop kita memesan kopi dengan menyebut “latte” saja, sebenarnya kita telah memesan segelas susu hangat.

Bila dilihat dari sejarahnya, caffe latte bermula dari kebiasaan turis Amerika di Italia yang ingin rasa espresso dari capuccino terasa lebih ringan. Seperti dikutip dari laman Faema.Ca, cappuccino diyakini sebagai dasar penemuan caffe latte.

Iustrasi kopi. (Pexels/Chevanon Photography)

Dalam cappuccino tradisional yang disajikan di rumah-rumah Italia, susu dihangatkan terlebih dahulu, kemudian ditambahkan espresso. Kala itu turis Amerika kurang suka dengan rasa espresso yang kuat. Maka ditambahkanlah susu untuk mengurangi rasanya.

Seiring berjalannya waktu, tren meminum caffe latte kemudian merambah ke Eropa, Amerika, hingga akhirnya tersebar ke seluruh dunia. Hanya saja dalam pembuatannya, banyak yang mengikuti cara orang Amerika, yaitu menggunakan susu yang di steam. Berbeda dengan khas Italia yang susunya cukup dipanaskan saja.

Kemudian dari sisi penyajian, caffe latte pada umumnya disajikan panas dalam cangkir di atas piring. Namun di beberapa tempat seperti Eropa, khususnya Skandinavia, caffe latte disajikan dalam mangkuk. Para penduduk lokal menyebut minuman ini dengan café au lait dan biasanya dijadikan sebagai bagian dari menu sarapan di rumah.

Sedangkan untuk membuat caffe latte, takaran yang dijadikan pedoman saat ini adalah satu cangkir susu yang telah di-steam, double shot espresso (60 ml), dan foam susu kira-kira setebal 1 cm. Dengan komposisi susu paling banyak, sejak pertama direguk caffe latte akan terasa begitu milky.

Teknik steaming pada susu juga akan membuat karakter foam yang cenderung halus. Untuk menambahkan nilai seni, kini foam digunakan oleh Barista untuk membuat lukisan di permukaan caffe latte. Seni ini biasa disebut dengan “latte art”. Semakin rumit dan indah bentuknya, pencinta kopi kadang merasa sayang untuk meminumnya.

Referensi:
The History of Caffe Latte

2 thoughts on “Mengenal Sejarah Caffe Latte

  1. Salah satu minuman kesukaan saya nih.
    Menikmati hari sambil menyeruput secangkir kopi ditemani pujaan hati
    ahoy!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *