Di Jakarta masa Third Wave of Coffee semakin populer, hal ini bisa dilihat dari semakin banyaknya kafe yang mengangkat tema speciality coffee. Menurut website Otten Coffee, istilah third wave of coffee pertama kali dikemukakan oleh Thrish Rothgeb pada sebuah artikel di Wrecking Ball Coffee Roasters pada 2002.

Secara sederhana istilah ini diartikan bahwa orang tidak lagi menikmati kopi sebagai sekedar minuman saja. Namun mereka juga memiliki ketertarikan pada kopi itu sendiri, misalnya jenis kopi apa yang mereka minum, dari mana biji kopi tersebut berasal, dan bagaimana cara mengolahnya.

Di Amerika masa third wave of coffee sudah berlangsung selama puluhan tahun dan menyebar di setiap kota. Sedangkan di Indonesia meski sudah mengalami masa tersebut kira-kira 5 tahun lamanya, hanya kafe di kota-kota besar saja yang mengalaminya. Bahkan di Jakarta kafe dengan tema speciality coffee sudah menjamur.

Secara visual, kafe dengan tema speciality coffee biasanya menyajikan kopi kepada pelanggannya dengan open bar. Pelanggan dapat melihat langsung bagaimana kopi mereka diproses langsung oleh barista.

Layaknya berkunjung ke rumah teman, para barista ini juga bisa Anda ajak ngobrol santai ketika bekerja. Mereka akan dengan senang hati menjelaskan tentang kopi jika Anda bertanya.

menyeduh kopi
Metode penyeduhan kopi ini dikenal dengan nama V60. Caranya dengan mengalirkan air panas pada bubuk kopi di atas filter. (Foto: Pexels/Rawpixel.com)

Kafe dengan tema speciality coffee juga mengutamakan pengalaman pelanggan dengan kopi yang mereka minum. Menurut penelitian Specialty Coffee Association of America (SCAA), pelanggan speciality coffee mengaitkan kopi mereka dengan interaksi sosial.

Mereka akan senang bila barista mengetahui nama mereka dan mengingat kopi favoritnya. Bagi pelanggan, berinteraksi dengan orang lain melalui kopi membuat sebuah hubungan terasa personal, emosional dan membawa pengalaman tentang kopi secara keseluruhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *